Advertisements

Inilah Bahaya Melakukan Tradisi Gebrak Bayi

Sumber: Halodoc

Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan sebuah video viral di media sosial, yang memperlihatkan seorang wanita tua sedang menggebrak di sekitar area tempat tidur bayi. 

Menurut informasi yang didapat, kegiatan tersebut merupakan salah satu tradisi Jawa yang bertujuan agar si bayi tidak gampang kaget ketika dewasa nanti. 

Dalam video tersebut, terlihat si bayi sangat terkejut ketika mendengar suara keras dari gebrakan oleh seorang wanita tua. 

Akan tetapi, tradisi gebrak bayi agar tidak gampang kaget ini justru ditentang dari segi medis. Pasalnya, ada beberapa dampak negatif yang akan dialami oleh bayi dari tradisi tersebut. 

Lantas, seperti apa sajakah dampak negatifnya? Nah, untuk mengetahui lebih jelasnya lagi, mari kita simak saja langsung ulasan di bawah ini. 

1. Bisa Mengalami Trauma

Sumber: KASKUS

Dari segi medis, tradisi gebrak bayi akan membuat si kecil mengalami trauma. Itu sebabnya, mengapa pada video gebrak bayi yang sedang viral itu banyak dihujat oleh para netizen. 

Dikutip dari situs Better Health Channel, menyebutkan bahwa rasa aman bayi dan balita sangat bergantung pada orang tuanya. 

Dengan kata lain, bayi dan balita memerlukan pengasuhan yang emosional melalui interaksi penuh kasih sayang serta menenangkan. 

Bukan hanya itu, mereka juga memerlukan bantuan agar bisa mengatasi beragam keadaan secara berkelanjutan dan konsisten. Melalui cara ini, maka bayi dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal. 

2. Gebrak Bayi Berpotensi Mengalami Baby Shaken Syndrome

Sumber: The New York Times

Selain trauma, bayi yang mendengar suara keras secara tiba-tiba juga dapat berpotensi mengalami SBS (Baby Shaken Syndrome). 

Advertisements

Lantas, apa yang dimaksud dengan Baby Shaken Syndrome? Perlu diketahui, SBS merupakan kondisi cedera otak serius yang disebabkan karena bayi mengalami guncangan secara hebat. 

Pada dasarnya, otot leher pada bayi masih lemah sehingga tidak bisa menopang berat di kepalanya. Apabila bayi diguncang secara paksa, tentu saja otaknya yang rapuh akan bergerak bolak-balik sehingga menyebabkan memar, bengkak, hingga pendarahan. 

Biasanya, SBS kerap terjadi ketika orang tua maupun pengasuh mengguncang bayi dengan keras akibat marah atau frustasi. Bahkan, kondisi tersebut bisa disebabkan karena si bayi rewel secara terus-terusan. 

Jika bayi mengalami Baby Shaken Syndrome, maka akan disertai dengan berbagai gejala seperti berikut:

  • Kejang
  • Kelumpuhan
  • Koma
  • Gangguan pernafasan
  • Nafsu makan yang menurun
  • Muntah-muntah
  • Mudah rewel dan marah.

4. Gebra Bayi Berpotensi Terjadinya Gangguan Pendengaran

Sumber: Orami

Tradisi gebrak bayi dengan bunyi-bunyian keras dapat memicu risiko terjadi gangguan pada pendengarannya. 

Hal itu bukan tanpa alasan, karena bayi maupun balita sangat sensitif terhadap suara keras. Ya, mengingat saluran telinga bayi yang lebih kecil, sehingga tekanan suara yang dihasilkan menjadi lebih besar ketimbang dengan orang dewasa. 

Selain tradisi gebrak, ada juga beberapa suara keras lainnya yang sumbernya berasal dari benda-benda seperti dibawah ini:

  • Mainan yang mempunyai volume keras
  • Volume tv dan volume pada perangkat gadget
  • Suara keras dari petasan maupun kembang api
  • Acara konser seperti musik, festival, dan lain sebagainya
  • Penggunaan mesin yang memiliki suara kencang, seperti mesin cuci

5. Kesimpulan

Pada dasarnya, bayi yang lahir dengan kondisi normal dan sehat memiliki respons motorik dasar (reflek bayi baru lahir). 

Pada intinya, bayi yang kaget ketika mendengar suara keras merupakan hal normal dan umum terjadi. Bahkan, orang dewasa sekalipun akan melakukan reflek serupa ketika mendengar suara keras secara tiba-tiba. 

Baca juga: 5 Tips Jitu Menghadapi Pertanyaan imigrasi

Advertisements